Suami Dapat Cuti 40 Hari dalam RUU KIA, Ingat Syaratnya

- Senin, 20 Juni 2022 | 16:27 WIB
Gilang Dirga dan Adiezty Fersa Pamer Kebahagiaan Atas Kelahiran Anak Pertama (Instagram @gilangdirga)
Gilang Dirga dan Adiezty Fersa Pamer Kebahagiaan Atas Kelahiran Anak Pertama (Instagram @gilangdirga)

HALLO PURWASUKA, JAKARTA - Salah satu isi Rancangan Undang-undang tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak atau RUU KIA yang mendapat sorotan publik adalah soal suami mendapatkan hak cuti mendampingi istri melahirkan. Waktunya maksimal selama 40 hari.

Hal itu tertuang di Pasal 6 ayat 2 huruf a draf RUU KIA yang diterima, Senin 20 Juni 2022 yang berbunyi `Suami sebagaimana dimaksud pada ayat (1), berhak mendapatkan hak cuti pendampingan: a. melahirkan paling lama 40 hari`.

RUU KIA juga memberikan hak kepada suami untuk mendampingi istri yang mengalami keguguran kehamilan maksimal selama tujuh hari.

Sebagaimana diketahui, RUU KIA memberikan hak cuti melahirkan kepada istri minimal enam bulan. Kemudian, RUU KIA juga memberikan istri hak untuk mendapatkan waktu istirahat 1,5 bulan atau sesuai dengan surat keterangan dokter kandungan atau bidan jika mengalami keguguran.

Baca Juga: WHO Ingatkan Kemunculan Gelombang Baru Covid-19, Ini Faktanya

Ketua DPR Puan Maharani menjadi salah satu tokoh yang vokal mendorong masa cuti ibu hamil menjadi enam bulan melalui RUU KIA. Penetapan masa cuti melahirkan sebelumnya diatur pada Undangan-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Tenaga Kerja dengan durasi waktu sebatas 3 bulan saja.

DPR RI menyepakati rancangan undang-undang (RUU) Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA) untuk dibahas lebih lanjut menjadi undang-undang. Puan menyebut RUU ini dirancang untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul.

Puan mengatakan ibu wajib mendapat waktu yang cukup untuk memberikan ASI bagi anak-anaknya, termasuk bagi ibu yang bekerja. Ia menegaskan, ibu bekerja wajib mendapat waktu yang cukup untuk memerah ASI selama waktu kerja.

"RUU KIA juga mengatur cuti melahirkan paling sedikit enam bulan, serta tidak boleh diberhentikan dari pekerjaan. Selain itu, ibu yang cuti hamil harus tetap memperoleh gaji dari jaminan sosial perusahaan maupun dana tanggung jawab sosial perusahaan," kata Puan dalam keterangan tertulisnya, Senin 13 Juni 2022.

Puan juga mengungkapkan alasan mengapa lebih mengusulkan perpanjang masa cuti ibu melahirkan saja, tapi tidak cuti ayah.

Halaman:

Editor: Yudi Aulia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X